JIKA SAJA
DESRI MAWARNI
Jika tak ada jika, aku tak akan mempunyai cara mengeluh kepada-Nya. Karena ada
jika, maka aku terus berandai-andai dengan mengatakan jika. Apa Tuhan murka sebab aku tak pernah bersyukur kepada-Nya.
Ah, jika saja mata diciptakan hanya
untuk melihat kebahagiaan, maka aku tak perlu menyaksikan semua kebodohan. Jika
saja telinga hanya mendengar baiknya sebuah kabar, mungkin aku tak masalah
dengan semua kicauan si camar. Jika saja pahit hanya dirasakan lidah, aku tak
akan pernah susah karena hati tidak mungkin merasa gelisah. Jika saja ini
ditakdirkan Tuhan, barangkali nurani pun menyadari ini bukanlah kehidupan.
Satu piring pecah, dua gela
dilempar. Semua menjadi asing terdengar.
Tetap saja lelaki dan uang selalu
menjadi masalah utama. Aku menyimpulkannya bukan hanya omong belaka, kakakku
yang kedua dengan segala rengekan bayinya selalu menghancurkan ketenangan
keluarga dan terus meminta ponsel baru sepert yang temannya punya. Ditambah
lagi dengan adik bungsuku yang menambah kekacauan dengan terus berganti
kekasih. Ketika dinasehati, dia malah menjawab, “cinta remaja memang seperti
ini, kenalan, pacaran, putus, lalu cari lagi... .” Cinta? Kurasa terlalu naif
jika dia menyebut itu cinta.
Tiga piring kulihat telah mejadi
beling yang tak berarti.
Dengan keadaan ini, si Sulung
malah terlihat seperti orang tuli. Kurasa dia mempunyai cara sendiri dalam
menyikapi. Entahlah, mungkin dewasa memang seperti itu, mengimbangi sesuatu
dengan mandiri. Seperi suatu hari, saat dia menyodorkan dua lembar uang dua
puluh ribu yang berhasil menghentikan pertengkaran.
Semuanya menjadi sulit dimengerti.
Segalanya datang silih berganti, bahkan sebuah tirai pun bisa memberi
kesaksian, tentang jiwa-jiwa yang bimbang, tentang jiwa-jiwa yang nuraninya
perlahan menghilang.
Mungkinkah menjadi saksi adalah
beban? Tirai itu tergeletak, tak bergeming. Lusuh. Seperti wajah orang tua dan
saudara-saudaraku. Beban hidup terus menghimpit kepala, semua berat, membuat
mereka lelah. Ah, barangkali bukan hanya mereka , tapi aku juga. Bagaimana
tidak, sore ini saja kami hanya duduk di atas tikar melingkari semangkuk mie,
dua piring nasi, dan enam gelas air yang setengah terisi. Terkadang aku ingin
mengeluh, tapi siapa yang peduli? Tak jarang semua yang ingin kuutarakan hanya sampai
di tenggorokan, membuatku tersedak, lalu sekejap kemudian akan menghilang,
terbuang kembali keangan. Mustahil jika semua dapat diwujudkan, karena semuanya
selalu saja berhubungan dengna uang. Seperti yang akan kubicarakan sekarang.
Dengan beberapa helaan nafas,
segera kukuasai keadaan.
“Pak, teman-temanku sudah
mendaftar SMA, lalu aku kapan? Bukankah akan lebih baik jika aku mendaftar
seperti mereka?” Suaraku parau, tangan bergetar. Mungkin hatiku juga.
Kuteguk sedikit air untuk sekedar
membasahi tenggorokan, meski bukan itu tujuan sebenarnya.
“Kita ini orang miskin, apa kau
akan membuatku gila karena beban biaya sekolah yang sangat tinggi?” bentaknya
dengan mengacung-acungkan sendok.
Kuteguk air sekali lagi.
“Tapi Pak siapa yang tahu jika
aku bersekolah nantinya aku akan mendapat pekerjaan yang berpenghasilan tinggi.
Hidup kita akan berubah. Aku akan membangun rumah, memasang listrik, membuat
sumur air, dan setiap hari kita akan selalu makan.”
“Hey kau, kau harus berpikir
realistis. Apakah kau tidak lihat bagaimana si Andi, anaknya pak Badru yang
sekolah sampai perguruan tinggi tapi sampai sekarang masih saja jadi seorang
pengangguran, bahkan sampai bapaknya mati. Apa kau pun akan membuatku mati
karena hutang di sana-sini?”
Ada sesuatu dari ucapan Bapak
yang menindih hatiku, sesuatu yang begitu berat dengan permukaan kasar. Seperti
sebuah beban. Tepatnya sebuah tekanan. Bagaimana jika memang benar nanti aku
menjadi seperti mas Andi?
Tuhan... .
“Tapikan mas Andi tidak
bersekolah dengan benar, dia hanya bermain-main.” Ucapku mengutarakan beberapa
berita yang sering terdengar
“Apa kau pikir aku bisa yakin
bahwa kau akan bersekolah dengan benar? Tidakkah kau lihat bagaimana aku
bekerja mati-matian demi sekolah kakakmu? Tapi sekarang, coba kau lihat, apa hasilnya?
Dia sama sekali tak berguna.”
Mulai kuperhatikan wajah Kakakku,
menerawang, mencari sesuatu di sana. Tak ada yang kutemukan kecuali delikan
matanya. Ini buruk. Segera kuberpaling wajah dan sampai di wajah Bapak, tapi
yang kutemukan adalah sesuatu yang lebih buruk. Wajah bapak menunduk. Urat-urat
di pelipis kanannya membentang tegang, menonjol, seakan ingin menerobos keluar
memberitahuku bahwa hidupnya memang benar-benar sulit. Ada garis penyesalan di
lipatan bawah matanya yang terpejam.
“Ah sudahlah, jangan dulu
memikirkan masa depan, aku belum punya rencana untuk itu. Bahkan aku pun tidak
bisa menjamin jika besok pagi kau dan saudara-saudaramu bisa makan.”
Apa permintaanku sangat
keterlaluan? Kenapa perasaan menyesal merasuk begitu kuat. Apa aku jahat kepada
Bapak? Bagaimana jika aku tak usah sekolah saja? Katanya, jika rumah bisa
menjadi tempat mengerikan untuk menghancurkan, maka rumah pun bisa jadi tempat
baik untuk mendidik. Setidaknya itulah kalimat terakhir yang kubaca dalam
sebuah buku di perpustakaan sekolah. Tapi bagaimana pun juga... .
“Apa kau pikir masa depan tidak
akan datang jika tak kau rencanakan? Kau harus memikirkan mereka, jika benar
kau seorang bapak. Jangan hanya habiskan uang dengan rokok saja!”
Ah ibu, kenapa selalu seperti ini?
Menabuh genderang dalam kekacauan pikiran, membakar mulut yang beku tak bersua.
Sekarang, membaralah hati meluap murka.
Setelah ini aku tak tahu berapa
jumlah gelas dan piring yang akan tersisa .
Ini semua benar kukatakan. Aku
ttak pernah berdusta kepada kau, dia, atau pun mereka. Hanya saja aku tak
pernah berucap ketika terluka. Bagaimana bisa aku melakukannya, ketika yang kau
pikirkan hanya soal cinta, mode, dan gaya? Bagaimana bisa aku berkata, ketika
kau saja masih pusing dengna lembar lamaran-lamaran kerja? Bagaimana bisa aku
menjadikan kau sebagai penenang, ketika pikiranmu saja masih kacau dengan
urusan rumah tangga? Bagaimana kau akan menyadari sebuah kemelut dihatiku yang
belum terselesaikan juga? Kemelut yang begitu sulit dari pelajaran matematika.
Ini soal rasa yang tak terjangkau logika. Ini soal... ah, ternyata juga tak
terjangkauoleh kata-kata.
Aku tak ingin mengetahui apa-apa
lagi, bukankah lebih baika aku pergi saja? Ini bukan hanya soal mennggalkan,
tapi juga soal yang membelenggu. Ada sesuatu yang membelenggu ulu hati. Aku
dihantui.
“Apa aku penyebab pertengkaran
mereka kali ini?” ucapku lirih
Uang telah mengikis cinta merpati
seklai lagi.
Aku tahu uang bagaikan sebuah
pondasi bagi keluargaku, pondasi yang lebih sering menggoyahkan dari pada
menguatkan. Membuatku ketakutan, lalu setelahnya air mata akan beruraian. Tapi
untu malam ini, air mataku terpaku di hulu, enggan berlomba bersama derasnya
hujan untuk menuju hilir. Butir air dari langit-langit kamar yang jatuh
mengenai ember lebih terdengar ramah. Aku gelisah. Mungkin karena akhir-akhir
ini aku menjadi terlalu sering menangis, meratapi diri, hingga tak tersisa lagi
untuk menandakan kegundahan hati. Sudah terlalu banyak air mataku menggenangi
dunia. Aku takut jika hatiku telah membeku, perasaanku berkarat karena terlalu
banyak kesedihan. Siapa yang tahu jika suatu badai yang besar dapat
mengeringkan lautan?
Sepertinya cukup sampai disini
saja. Aku harus segera mengakhiri semua sebelum terlalu dalam belati itu
menikamku.
Ah, tapi apakah semua akan
berakhir sampai disini, seperti ini? Tidak. Hidup akan terus berlanjut, dengan
beberapa andai-andai, kemungkinan, atau sesuatu yang lebih menggentarkan.
Kehancuran.
Jika kata jika ada tapi hanya bermakna fatamorgana, kurasa tak mengapa
sekarang aku banyak mengatakannya.
“Tuhan... jika saja... .”
***SELESAI***
Hallo sahabat literasi, lama tidak berjumpa. haraplah memakluminya, akhir-akhir ini banyak sekali yang membuatku kerepotan dalam menyelesainya, dimulai dari hal yang terencana hingga yang tiba-tiba datang menyapa. Tapi, sudahlah Tuhan punya rencana dan aku tak dapat mengabaikannya begitu saja karena hanya akan membuat semua berantakan keluar dari lintasan.
Sudahilah dulu cerita tentangku yang menjemukan. Sekarang biar kubuka oleh-olehku untukmu. semoga kau menikmatinya.
kutunggu cerita darimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar